Dari Sekolah ke Pesisir: Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Ekosistem Mangrove

“ Di pesisir yang tenang, tempat mangrove tumbuh dengan akar-akar yang kokoh menahan ombak, tersimpan sebuah harapan besar yang berawal dari langkah kecil anak-anak sekolah dasar. Ketika anak-anak belajar mencintai ekosistem mangrove memahami perannya sebagai pelindung pantai, rumah bagi berbagai biota, dan penjaga keseimbangan alam kepedulian itu tidak berhenti di ruang kelas. Ia tumbuh di dalam hati anak, lalu dibawa pulang ke rumah, menyentuh orang-orang terdekatnya, terutama orang tua."

Dalam berbagai upaya mengelola lingkungan, peran anak-anak sekolah dasar sering kali tidak diperhatikan atau diabaikan. Anakanak sering dianggap belum mampu berpikir secara kritis, ataupun belum memahami permasalahan lingkungan yang rumit. Sehingga anak-anak hanya diberi informasi tanpa diberi kesempatan untuk berkontribusi. Pandangan seperti ini secara tidak langsung membatasi partisipasi anak dan menghilangkan potensi besar yang sebenarnya mereka miliki dalam menjaga dan merawat lingkungan sejak kecil. Padahal, anak-anak sekolah dasar sedang dalam masa pembentukan karakter dan kebiasaan. Segala sesuatu yang mereka pelajari dan lakukan saat ini akan terus mengiringi mereka hingga dewasa. Jika anak tidak terlibat secara aktif dalam kegiatan menjaga lingkungan, seperti mengelola sampah dan menjaga ekosistem mangrove, mereka akan kehilangan kesempatan untuk belajar menjadi bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Akibatnya, pembelajaran tentang lingkungan hanya berhenti di tingkat teori saja tanpa membentuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Program Pelatihan Pendidikan Lingkungan Hidup Tingkat Dasar ini hadir dikarenakan isu/permasalahan degradasi ekosistem mangrove yang masih terjadi di Kabupaten Wajo. Salah satu penyebab utama dari degradasi tersebut adalah alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, terutama tambak bandeng dan udang. Dorongan ekonomi dan kebutuhan akan peningkatan hasil produksi mendorong banyak petambak untuk membuka lahan baru dengan cara menghilangkan vegetasi mangrove yang sebelumnya tumbuh di sekitar pantai.

Kegiatan Pelatihan dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 116 Pantai Timur, Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo. Pelatihan Pendidikan Lingkungan Hidup dilakukan dengan menggunakan metode pengajaran Melalui permainan dan kegiatan interaktif. Siswa(i) belajar melalui permainan kuis tebak gambar dan diskusi kelompok. Terbukti, metode pembelajaran seperti ini membuat senang siswa(i) sehingga lebih tertarik dan antusias dalam belajar.

Siswa(i) diperkenalkan dengan jenis-jenis mangrove yang umum dijumpai di wilayah tempat tinggal mereka. Dengan bantuan gambar seperti bakau (Rhizophora), api-api (Avicennia), dan pedada (Sonneratia). Fasilitator juga menjelaskan ciri-ciri sederhana, seperti bentuk akar, daun, dan tempat tumbuhnya. Pendekatan visual dan bahasa yang mudah dipahami membuat siswa antusias dan mampu membedakan jenis mangrove dengan cara yang menyenangkan. Selain menerima materi, anak-anak juga diberi kesempatan melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk melihat kondisi ekosistem mangrove di sekitar tempat tinggal mereka.

Setelah melakukan pengamatan di lapangan, anak-anak diminta menceritakan hasil temuan mereka di depan kelas. Dengan antusias, mereka menceritakan hasil pengamatan terkait kondisi ekosistem mangrove di sekitar tempat tinggal mereka, mulai dari jenis mangrove yang ditemukan hingga kondisi lingkungan di sekitarnya. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama teman-teman sekelas, di mana anak-anak saling bertukar pendapat, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan pandangan mereka.

Selanjutnya, siswa diajak memahami peran dan fungsi ekosistem mangrove. Mangrove dikenalkan sebagai “pelindung pantai” yang mampu menahan ombak dan mencegah abrasi, serta sebagai penyangga kehidupan laut dan manusia. Guru menjelaskan bahwa mangrove juga berfungsi sebagai tempat berlindung dan berkembang biak berbagai makhluk hidup, sekaligus membantu menjaga kualitas air dan udara. Melalui cerita dan diskusi, siswa mulai memahami bahwa mangrove bukan sekadar pohon, tetapi bagian penting dari keseimbangan alam.

Materi berikutnya membahas biota yang hidup di ekosistem mangrove. Anak-anak diperkenalkan pada berbagai hewan yang hidup dan bergantung pada mangrove, seperti ikan kecil, kepiting, udang, kerang, burung, dan serangga. Dengan contoh-contoh konkret, siswa belajar bahwa setiap makhluk memiliki peran dan saling membutuhkan. Pembelajaran ini menumbuhkan rasa empati dan kepedulian siswa terhadap makhluk hidup lain yang berbagi lingkungan dengan manusia.

Kegiatan pendidikan ini juga mengajak siswa untuk mengenali penyebab kerusakan ekosistem mangrove. Dengan bahasa sederhana, Fasilitator menjelaskan bahwa penebangan mangrove, pembuangan sampah, alih fungsi lahan, serta pencemaran air dapat merusak mangrove dan mengancam kehidupan di sekitarnya. Siswa diajak berdiskusi tentang dampak yang dapat terjadi jika mangrove rusak, seperti banjir, hilangnya habitat hewan, dan menurunnya hasil laut. Pendekatan ini melatih siswa untuk berpikir kritis dan memahami akibat dari perilaku manusia terhadap lingkungan.

Sebagai penutup, siswa dibimbing untuk memahami langkahlangkah pelestarian ekosistem mangrove. Anak-anak diajak melakukan tindakan sederhana yang dapat mereka lakukan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, ikut menanam mangrove, serta mengajak keluarga dan teman untuk menjaga lingkungan pesisir. Melalui kegiatan refleksi dan komitmen bersama, siswa belajar bahwa menjaga mangrove adalah tanggung jawab semua orang, termasuk mereka sendiri.

“ Nasihat yang mungkin terasa berat jika datang dari orang lain, justru terasa hangat ketika muncul dari anak sendiri sosok yang paling mereka cintai dan banggakan."

Mahmudin - Fasilitator Lingkungan Wajo

Lampiran File:
Dari Sekolah ke Pesisir_Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Ekosistem Mangrove.pdf