Semangat di tengah kebimbangan
" Tetap Semangat Di Tengah Kebimbangan"
Sektor perikanan selama ini kerap dipandang sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan produksi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, terselip kisah sekelompok masyarakat yang justru mengalami kebimbangan. Mereka tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan—yang akrab disebut pokdakan—dan dikenal sebagai petambak tradisional.
Merekalah yang sejak puluhan tahun silam menggantungkan hidup secara turun-temurun pada tambak-tambak sederhana. Dengan segala keterbatasan, mereka bertahan mengelola lahan budidaya secara tradisional. Kini, mereka harus berhadapan dengan sistem pembangunan perikanan yang belum sepenuhnya berpihak pada usaha kecil.
Petambak tradisional bekerja dengan modal minim dan perlengkapan seadanya, tanpa dukungan teknologi memadai sesuai standar operasional prosedur (SOP) budidaya. Pengalaman menjadi guru paling setia dan berharga bagi mereka. Menyesuaikan dengan keadaan Siklus alam menjadi pedoman utama dalam berbudidaya. Disiplin waktu dan kerja keras menjadi nafas keseharian mereka demi menjaga tambak udang milik mereka tetap produktif. Sayangnya, pendekatan ini kerap dianggap tidak efisien jika dibandingkan dengan tambak modern yang mengandalkan teknologi intensif. Akibatnya, petambak tradisional sering diposisikan sebagai pelaku usaha kelas terakhir, dengan daya saing yang kian tergerus.
Persoalan tidak berhenti pada produksi. Dalam rantai distribusi, posisi tawar petambak tradisional sangat lemah. Ketergantungan pada agen pengepul lokal atau tengkulak membuat harga jual udang sering kali tidak standar dan tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Ketika harga udang beberapa bulan lalu mengalami penurunan yang cukup signifikan tidak seimbang dengan harga pakan terus merangkak naik dan tidak pernah mengenal istilah "turun harga", belum lagi penyakit dini menyerang benur yg baru di tebar beberapa hari, atau cuaca ekstrem datang bersama hujan lebat dan angin kencang, membuat air tambak melimpas, maka petambaklah yang harus menanggung kerugian paling besar.
Ironisnya, ancaman lain kini ikut menghantui: isu yang terus berkembang alih fungsi lahan tambak menjadi persawahan. Saluran air yang selama ini menjadi nadi kehidupan tambak terancam ditutup buka demi kepentingan tata kelola air pertanian. Dalam kondisi serba terbatas, para petambak seolah tidak memiliki pilihan selain mengalah.
Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah isu ini akan menjadi momok yang menandai perlahan tergerusnya tambak-tambak tradisional, tergantikan oleh persawahan? Apakah produksi padi dianggap lebih menjanjikan kesejahteraan dibandingkan produksi udang? Padahal, dari sudut pandang ekonomi dan ekologi, petambak tradisional bukan sekadar pelaku usaha, melainkan penjaga keseimbangan ekosistem perikanan pesisir.
Di persimpangan pilihan yang sulit—bertahan atau berubah haluan—petambak tradisional menaruh harapan besar pada kehadiran negara. Program bantuan dan pemberdayaan diharapkan tidak berhenti pada wacana. Melalui Infrastructure Improvement for Shrimp Aquaculture Project (IISAP) sebagai pilot project, petambak tradisional membutuhkan dukungan nyata: akses bantuan permodalan, peningkatan akses normalisasi saluran yang baik, pendampingan teknologi sederhana sesuai SOP, serta sistem pemasaran dengan harapan mampu memutus mata rantai ketergantungan pada agen tengkulak lokal.
Perlindungan lahan tambak dan lingkungan perikanan pesisir harus menjadi prioritas bersama. Sebab, petambak tradisional adalah simbol ketahanan pangan dan kearifan lokal. Sudah saatnya pembangunan sektor budidaya perikanan tidak semata mengejar angka produksi, tetapi juga menghadirkan keadilan bagi mereka yang selama ini bekerja keras dalam kebimbangan dan ketidakpastian.
Penulis: Herman Jaya, SE
Fasilitator Pengembangan Usaha Project IISAP Kabupaten Lampung Selatan