Pendampingan Fasilitator kepada Petambak Udang Tradisional di Jembrana

Pendampingan Fasilitator kepada Petambak Udang Tradisional di Jembrana

Pendampingan fasilitator kepada petambak udang tradisional di Kabupaten Jembrana merupakan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan teknis petambak sekaligus memperbaiki hasil budidaya udang secara menyeluruh. Kegiatan pendampingan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemahaman petambak terhadap prinsip-prinsip dasar budidaya yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.

Kondisi Musim Budidaya dan Dampak Banjir

Secara umum, musim tebar benur udang di Jembrana berlangsung dari bulan Agustus hingga Maret. Pada periode ini, sebagian besar petambak mulai mempersiapkan kolam dan melakukan penebaran benur sesuai dengan kondisi pasang air laut. Namun, pada tanggal 10 September terjadi banjir besar yang berdampak signifikan terhadap area pertambakan. Banjir tersebut menyebabkan banyak kolam rusak dan siklus budidaya yang telah berjalan harus terhenti.

 

Akibat kondisi tersebut, sebagian besar petambak kembali melakukan penebaran benur pada bulan Oktober dan November. Meskipun menghadapi tantangan pascabanjir, pendampingan oleh fasilitator tetap dilaksanakan secara intensif agar petambak dapat bangkit kembali dan menjalankan budidaya dengan lebih baik.

Lokasi dan Waktu Penebaran Benur

Pendampingan dilakukan pada beberapa wilayah pertambakan di Jembrana dengan waktu penebaran yang berbeda-beda. Beberapa petambak di wilayah Budeng melakukan penebaran benur pada tanggal 14 November, petambak di Tuwed melakukan tebar benur pada tanggal 21 November, sementara petambak di Kombading telah melakukan penebaran lebih awal, yaitu pada tanggal 25 Oktober. Selain itu, terdapat pula petambak di wilayah Lelateng yang melakukan penebaran benur pada bulan November hingga Desember.

                           

Perbedaan waktu tebar ini menjadi perhatian dalam pendampingan, karena setiap kolam memiliki kondisi lingkungan dan kesiapan yang berbeda, sehingga perlakuan budidaya yang diberikan pun harus disesuaikan.

Tujuan Program Pendampingan

Program pendampingan fasilitator kepada petambak udang tradisional di Jembrana bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petambak dalam mengelola budidaya udang secara lebih terukur dan berkelanjutan. Secara khusus, tujuan program ini meliputi:

  1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petambak dalam melakukan persiapan kolam, penebaran benur, pemberian pakan, dan perlakuan budidaya yang sesuai dengan kondisi lapangan.
  2. Membantu petambak memahami kemampuan kolam sehingga jumlah tebar benur dapat disesuaikan dan pertumbuhan udang menjadi lebih optimal.
  3. Mendorong efisiensi biaya produksi melalui pengelolaan pakan yang tepat dan terukur.
  4. Meminimalkan risiko kegagalan budidaya akibat kualitas air yang buruk dan perlakuan budidaya yang tidak sesuai.
  5. Mendukung peningkatan hasil panen dan kesejahteraan petambak udang tradisional di Jembrana.

   

 

Fokus Pendampingan Budidaya

Pendampingan fasilitator kepada petambak difokuskan pada tiga aspek utama dalam budidaya udang tradisional, yaitu penebaran benur, pemberian pakan, dan perlakuan budidaya.

1. Penebaran Benur dan Persiapan Kolam

Pada tahap penebaran benur, fasilitator menekankan pentingnya penentuan jumlah tebar yang sesuai dengan kemampuan kolam. Dalam praktiknya, petambak sering kali tidak mengukur kapasitas kolam secara tepat sehingga terjadi kelebihan tebar (overstocking). Kondisi ini dapat menyebabkan udang tidak tumbuh secara maksimal akibat keterbatasan ruang, oksigen, dan pakan.

Selain jumlah tebar, persiapan kolam juga menjadi faktor penting yang sangat mempengaruhi kelangsungan hidup benur. Kolam yang belum siap sering kali masih menyisakan ikan liar atau organisme lain yang dapat menjadi kompetitor sekaligus predator bagi udang. Oleh karena itu, fasilitator mendampingi petambak dalam memastikan kolam benar-benar siap sebelum benur ditebar.

2. Pemberian Pakan yang Terukur

Aspek berikutnya yang menjadi fokus pendampingan adalah pemberian pakan. Pada budidaya tradisional, pemberian pakan sering dilakukan tanpa perhitungan yang jelas. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian, baik karena pakan yang diberikan terlalu banyak sehingga terbuang, maupun terlalu sedikit sehingga pertumbuhan udang tidak optimal.

Melalui pendampingan, fasilitator membantu petambak menghitung kebutuhan pakan berdasarkan umur dan pertumbuhan udang. Dengan demikian, pakan yang diberikan dapat lebih efisien, biaya produksi dapat ditekan, dan pertumbuhan udang dapat berjalan secara optimal.

3. Perlakuan Budidaya: Pengelolaan Air dan Fermentasi

Perlakuan budidaya yang sangat disoroti dalam pendampingan adalah pengelolaan air dan pemberian fermentasi. Pada budidaya udang tradisional, pengisian air merupakan jantung dari seluruh kegiatan budidaya karena sistem ini sangat bergantung pada pasang surut air laut.

Fasilitator menekankan pentingnya pemilihan waktu pasang air yang baik. Apabila petambak tidak selektif, air pasang yang buruk dapat masuk ke dalam kolam dan membawa dampak negatif terhadap kualitas air serta kesehatan udang. Oleh karena itu, pemahaman tentang karakteristik air pasang menjadi bagian penting dalam pendampingan.

Selain itu, pemberian fermentasi juga harus disesuaikan dengan kondisi kolam. Fermentasi umumnya diberikan pada awal budidaya untuk meningkatkan kesuburan kolam dan mendukung pertumbuhan pakan alami. Namun, apabila diberikan secara berlebihan, fermentasi justru dapat menimbulkan dampak buruk, seperti meningkatnya bakteri patogen, khususnya bakteri Vibrio, yang berbahaya bagi udang.

 

Kesimpulan

Pendampingan fasilitator kepada petambak udang tradisional di Jembrana merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas dan keberhasilan budidaya udang, khususnya setelah terdampak banjir besar. Melalui pendampingan yang menitikberatkan pada penebaran benur yang sesuai kapasitas kolam, pemberian pakan yang terukur, serta pengelolaan air dan fermentasi yang tepat, petambak didorong untuk menerapkan praktik budidaya yang lebih baik.

Pendampingan ini tidak hanya membantu petambak dalam mengatasi permasalahan teknis di lapangan, tetapi juga membangun pemahaman jangka panjang agar petambak mampu mengambil keputusan budidaya secara mandiri. Dengan pelaksanaan pendampingan yang konsisten dan berkelanjutan, diharapkan budidaya udang tradisional di Jembrana dapat berkembang secara lebih optimal, produktif, dan berkelanjutan, serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petambak.