Peran dan Penguatan Hatchery Skala Rumah Tangga dalam Industri Udang di Kalianda, Lampung Selatan
Industri udang vaname (Litopenaeus vannamei) telah menjadi salah satu sektor unggulan perikanan budidaya Indonesia, dengan nilai ekspor yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Di balik kesuksesan industri udang yang bernilai miliaran dolar ini, terdapat rantai pasok yang kompleks dimana hatchery atau pematung benur memegang peran strategis sebagai penyedia benih bermutu. Hatchery merupakan titik awal kritis dalam siklus produksi udang, menentukan keberhasilan budidaya di tambak-tambak pembesaran (Jala Tech, 2024) .
Di antara berbagai tipe hatchery yang ada, Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) muncul sebagai aktor penting yang seringkali terlupakan dalam diskusi industri udang. Meskipun beroperasi dalam skala mikro dengan kapasitas terbatas, HSRT memberikan kontribusi signifikan terhadap ketersediaan benur, terutama di daerah-daerah sentra produksi udang seperti Kalianda, Lampung Selatan.
Hasil survei lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan di kawasan sentra hatchery Kalianda, Lampung Selatan, mengungkapkan fakta menarik tentang eksistensi HSRT. Meskipun dikelola oleh perorangan dengan segala keterbatasan, HSRT di wilayah ini masih eksis dan memberikan kontribusi nyata bagi industri udang Provinsi Lampung. Mereka beroperasi dengan kapasitas produksi yang relatif kecil hingga menengah, namun memiliki fleksibilitas dan kedekatan dengan pembudidaya lokal yang menjadi nilai tambah tersendiri. HSRT di Kalianda mengandalkan pengetahuan lokal yang diturunkan secara turun-temurun, dibarengi dengan adaptasi teknologi sederhana yang sesuai dengan kemampuan modal mereka. Kondisi ini menciptakan ekosistem hatchery yang unik, di mana skala mikro berdampingan dengan industri besar dalam memenuhi kebutuhan benur nasional.
Mengingat peran strategis HSRT dalam mendukung industri udang nasional, penguatan kapasitas menjadi sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. Penguatan ini harus bersifat komprehensif dan menyeluruh, mencakup:

Peningkatan Keterampilan Teknis: Pelatihan berkelanjutan mengenai teknik pembenihan modern, manajemen kualitas air, dan pengendalian penyakit perlu dilakukan secara intensif. Pendampingan teknis dari ahli akuakultur dapat membantu HSRT mengadopsi praktik terbaik yang sesuai dengan skala usaha mereka.
1. Penguatan Legalitas Usaha: Asistensi dalam pengurusan perizinan usaha akan membuka akses ke berbagai program pemerintah, fasilitas perbankan, dan pasar formal yang lebih luas.
2. Perluasan Akses Pasar: Pengembangan platform digital dan kemitraan dengan offtaker dapat membantu HSRT menembus pasar yang lebih luas dengan harga yang lebih kompetitif.
3. Inovasi Teknologi Tepat Guna: Pengembangan teknologi sederhana namun efektif yang sesuai dengan skala rumah tangga dapat meningkatkan produktivitas tanpa memerlukan investasi yang terlalu besar.
Wijayanto | Tenaga Ahli Monitoring & Evaluasi - PLT Site Advisor Lampung