🦐 Stimulus Benur Udang Vannamei dari BPIU2K Karangasem: Niat Baik yang disalah gunakan

🦐 Stimulus Benur Udang Vannamei dari BPIU2K Karangasem: Niat Baik yang disalah gunakan

Bantuan Stimulus dan Kendala Persiapan Petambak Tradisional

Balai Perikanan Induk Udang Unggul Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, Bali, secara rutin menyelenggarakan kegiatan bantuan benur udang sebagai upaya stimulus bagi kelompok petambak. Salah satu kelompok penerima manfaat yang sering menjadi sasaran adalah kelompok petambak udang di Kabupaten Jembrana. Bantuan yang disalurkan berupa benur udang Vannamei. Pada hari ini, Jumat, 14 November 2025, misalnya, telah dilakukan penebaran benur hasil bantuan dari BPIU2K Karangasem. Namun, informasi mengenai ketersediaan dan tanggal kedatangan benur bantuan ini seringkali bersifat mendadak, rata-rata hanya diumumkan satu- dua minggu sebelum kedatangan. Pemberitahuan yang mendadak ini menimbulkan persoalan serius, khususnya bagi petambak tradisional di Jembrana yang mayoritas adalah petambak tradisional. Persiapan kolam yang layak bagi petambak tradisional memerlukan waktu yang lebih lama. Akibatnya, persiapan kolam seringkali dilakukan seadanya. Kondisi ini ironisnya justru meningkatkan risiko mortalitas benur yang tinggi setibanya di kolam karena lingkungan kolam yang belum siap secara optimal.

Pembagian Benur yang Kurang Memperhatikan Kapasitas Kolam

Bantuan benur udang dari BPIU2K Karangasem yang tiba pada tanggal 14 November 2025 ini tercatat berjumlah 823.070 ekor. Benur tersebut terdiri dari empat ukuran Post Larvae (PL) yang berbeda, yaitu PL 9, PL 11, PL 12, dan PL 18, dan tiba sekitar pukul 05.30 WITA. Pembagian benur ini kemudian dilakukan kepada dua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), yakni Pokdakan Bayu Segara dan Pokdakan Bina Sari Usaha. Dalam proses pembagian, terlihat adanya kecenderungan pembagian benur secara merata kepada seluruh anggota kelompok. Metode pembagian ini dinilai kurang tepat karena tidak mempertimbangkan atau melihat secara spesifik kapasitas produktivitas dan daya dukung teknis dari masing-masing kolam petambak.

Nota jalan benur

NO

JENIS BENUR (PL)

JUMLAH BOX

JUMLAH KANTONG DALAM BOX

TOTAL KANTONG

JUMLAH BENUR/  KANTONG

TOTAL JUMLAH BENUR

JUMLAH BENUR PER JENIS

1

PL 12

2

12

24

2.100

50.400

50.400

2

PL 11

9

12

108

2.084

225.072

239.660

 

 

1

7

7

2.084

14.588

3

PL9

8

12

96

2.490

239.040

246.510

 

 

1

3

3

2.490

7.470

4

PL18

15

12

180

1.500

270.000

286.500

 

 

1

11

11

1.500

16.500

TOTAL

823.070

Pembagian ke petambak

NO

NAMA

KELOMPOK

BENUR YANG DITERIMA

KETERANGAN PL PER (KANTONG)

PL 9

PL 11

PL 12

PL 18

1

I NYOMAN DARNA

BAYU SEGARA

150.076

36

29

0

0

2

SUWARNO

BAYU SEGARA

150.076

36

29

0

0

3

KOMANG

BAYU SEGARA

59.056

12

14

0

0

4

DARSANA

BAYU SEGARA

54.888

12

12

0

0

5

I KOMANG WISNU

BINA SARI USAHA

71.508

0

12

0

31

6

I GEDE PERDANA

BINA SARI USAHA

75.600

0

10

2

31

7

I KETUT WIDANA

BINA SARI USAHA

77.840

0

10

5

31

8

I KETUT SWARYA

BINA SARI USAHA

56.070

0

3

6

24

9

I MADE SWASTIKA

BINA SARI USAHA

72.252

0

3

5

37

10

I WAYAN PASTIKA

BINA SARI USAHA

74.352

0

3

6

37

TOTAL

841.718

96 (-3)

125 ( +10)

24

191

 

Pentingnya Penghitungan Tebar Benur yang Ideal Berdasarkan Daya Dukung

Dalam teknis budidaya perikanan, penghitungan jumlah tebar benur per kolam merupakan faktor kunci yang wajib diperhatikan. Penentuan jumlah tebaran ideal ini harus didasarkan pada kapasitas produksi yang dimiliki oleh masing-masing kolam. Kapasitas ini mencakup berbagai aspek seperti kedalaman, luasan kolam, ketersediaan air yang memadai, daya beli pakan oleh petambak, serta ketersediaan sarana daya dukung teknis seperti kincir atau blower. Dengan melakukan perhitungan yang cermat, petambak dapat menentukan padat tebar yang optimal. Sebaliknya, melakukan tebaran benur yang tidak sesuai dengan daya dukung kolam akan berakibat fatal pada keberhasilan budidaya, termasuk risiko kegagalan panen. Perhitungan tebar yang tepat juga membantu petambak dalam menyusun estimasi kebutuhan pakan yang harus dibeli, sehingga persiapan finansial menjadi lebih matang.

Kesimpulan dan Rekomendasi: Perlu Perbaikan Pola Pelaksanaan dan Monitoring

Secara keseluruhan, meskipun program bantuan benur ini bertujuan baik sebagai stimulus, pola pelaksanaannya saat ini dinilai kurang efektif dan berpotensi menimbulkan dampak negatif. Dari sisi BPIU2K Karangasem, selektivitas dalam pemilihan kelompok penerima serta perencanaan jadwal pemberian benur harus ditingkatkan agar tidak bersifat mendadak. Tanggal pengiriman benur harus diputuskan jauh-jauh hari. Sementara dari sisi petambak, kelompok penerima seharusnya lebih proaktif dalam mempersiapkan kolam, mental, dan finansial saat menerima bantuan, bukan hanya menunggu. Kekurangan dokumentasi dan monitoring yang ketat dalam teknis pembagian benur dan proses budidaya juga membuka peluang penyelewengan. Selain itu, monitoring budidaya secara berkala (misalnya mingguan) sangat diperlukan untuk melihat progress dan hasil dari bantuan tersebut. Jika pola ini terus berlanjut, dikhawatirkan mental petambak bukannya terdorong menjadi petambak mandiri dan profesional, melainkan justru mengarah pada mental menunggu atau meminta-minta bantuan secara terus-menerus.