Belajar dari Lapangan: Keraguan Petambak Menebar Benur dan Pentingnya Pendampingan Fasilitator

Penulis : Mahmudin (Fasilitator Lingkungan IISAP)

Musim peralihan dari hujan menuju kemarau selalu menjadi masa yang penuh pertimbangan bagi petambak udang vaname di Kabupaten Wajo. Di satu sisi, keinginan untuk segera memulai siklus budidaya cukup besar, karena setiap siklus yang dimulai berarti peluang pendapatan bagi keluarga petambak.

Namun di sisi lain, kondisi lingkungan yang belum stabil membuat banyak petambak memilih menunda penebaran benur. Keputusan ini bukan sekadar rasa khawatir, melainkan hasil dari pengalaman panjang yang mereka alami di lapangan.

Pada musim peralihan, hujan masih kerap turun secara tiba-tiba dengan intensitas cukup tinggi. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas air tambak dan memicu perubahan lingkungan yang cukup drastis. Bagi udang vaname, perubahan seperti penurunan salinitas, perubahan pH, hingga meningkatnya kekeruhan air dapat menyebabkan stres dan meningkatkan risiko serangan penyakit.

Tidak hanya itu, curah hujan yang datang mendadak juga memunculkan kekhawatiran akan banjir. Bagi petambak, banjir bukan sekadar gangguan sementara, tetapi bisa menjadi penyebab utama kegagalan panen. Air yang meluap dapat merusak tanggul, mengubah kondisi tambak secara drastis, bahkan menyebabkan udang keluar dari tambak.

Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk sikap kehati-hatian di kalangan petambak. Karena itu, sebagian besar memilih menunggu hingga kondisi benar-benar mendukung sebelum memulai budidaya.

Melalui website power.larc.nasa.gov, Fasilitator lingkungan menganalisis data tren curah hujan selama 10 tahun terakhir di Kabupaten Wajo yang menunjukkan pola sejalan dengan pengalaman petambak. Intensitas hujan umumnya masih tinggi pada awal tahun, dengan puncak terjadi pada Januari sekitar 311 mm, kemudian masih cukup tinggi pada Februari (273 mm) dan Maret (252 mm). Periode ini dapat dikategorikan sebagai masa peralihan, ketika hujan masih sering turun meskipun secara umum mulai bergerak menuju musim kemarau.

Kondisi tersebut menyebabkan fluktuasi lingkungan tambak yang cukup ekstrem. Tidak mengherankan jika faktor cuaca menjadi salah satu pertimbangan utama bagi petambak dalam menentukan waktu tebar benur.

Di tengah situasi yang tidak menentu ini, peran pendamping menjadi sangat penting. Fasilitator teknis dan lingkungan melakukan pendampingan kepada petambak untuk memberikan arahan dan dukungan teknis dalam mengelola tambak selama musim hujan.

Tim fasilitator Teknis mengingatkan bahwa curah hujan yang tinggi dapat mempengaruhi kualitas air tambak secara signifikan. Karena itu, petambak dianjurkan untuk lebih waspada dalam pengelolaan tambak.

“Mohon rutin memantau kualitas air, menjaga ketinggian air tetap stabil, memastikan saluran air berfungsi baik, serta memperkuat tanggul tambak, terutama saat curah hujan tinggi,” ujar Adri adi aksa salah satu fasilitator teknis saat mendampingi petambak di lapangan.

Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu petambak mengurangi risiko kerusakan tambak maupun gangguan kesehatan udang selama musim hujan.

Dari berbagai temuan di lapangan, keputusan petambak untuk menunda tebar benur sebenarnya bukan bentuk keraguan. Justru sebaliknya, keputusan tersebut merupakan strategi adaptif dalam menghadapi kondisi lingkungan yang dinamis.

Sikap kehati-hatian ini menunjukkan bahwa petambak semakin sadar akan pentingnya perencanaan dalam budidaya. Dengan memahami pola cuaca dan kondisi lingkungan, mereka berusaha memulai siklus budidaya pada waktu yang lebih aman.

Ke depan, penguatan kapasitas petambak dalam membaca kondisi lingkungan, disertai dengan pendampingan yang berkelanjutan, akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan musim peralihan. Dengan cara ini, risiko kegagalan dapat ditekan dan peluang keberhasilan budidaya udang vaname dapat meningkat secara signifikan.

Lampiran File:
Belajar dari Lapangan Mengapa Banyak Petambak Menunda Tebar Benur.pdf