Tiga Siklus Pendampingan Ubah Cara Bertambak, Alihaq Tinggalkan Pupuk Kimia: Modal Turun, Hasil Meningkat
Penulis : Mahmudin (Fasilitator Lingkungan IISAP)
WAJO – Dibalik hamparan tambak yang membentang tenang di Desa Pantai Timur, Kecamatan Takalala, Kabupaten Wajo, tersimpan kisah perubahan yang tidak hanya berdampak pada hasil panen, tetapi juga pada cara pandang seorang petambak terhadap keberlanjutan usaha.
Selama bertahun-tahun, penggunaan pupuk urea dan berbagai bahan kimia dalam budidaya udang vaname dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Pupuk digunakan untuk mempercepat pertumbuhan plankton sebagai pakan alami, sementara bahan kimia tambahan diaplikasikan untuk menjaga kualitas air dan menekan potensi serangan penyakit.
Namun praktik tersebut tidak selalu berjalan tanpa konsekuensi. Penggunaan pupuk urea secara berlebihan dapat memicu ledakan plankton yang tidak terkendali. Air tambak berubah warna secara drastis, kadar amonia meningkat, dan keseimbangan ekosistem terganggu. Ketika plankton mati secara massal, kualitas air menurun tajam, oksigen terlarut berkurang, dan udang menjadi rentan stres bahkan terserang penyakit.
Dalam kondisi seperti itu, solusi yang sering diambil justru menambah dosis bahan kimia. Siklus ketergantungan terus berulang. Biaya operasional meningkat, sementara risiko gagal panen tetap mengintai.
Seorang petambak yang tergabung dalam Pokdakan Lakamporo di Desa Pantai Timur, Kecamatan Takalala, Kabupaten Wajo kini berhasil meninggalkan penggunaan pupuk urea dan bahan kimia dalam budidaya tambaknya.
Adalah Alihaq, petambak udang vaname yang sebelumnya mengandalkan pupuk urea dan obat-obatan kimia untuk menunjang produksi. Dalam satu siklus budidaya, ia harus mengeluarkan modal antara Rp15 hingga Rp20 juta untuk tambak seluas satu hektar.
“Dulu hampir setiap siklus saya pakai pupuk urea dan obat-obatan. Biayanya besar sekali. Kadang hasilnya tidak sebanding dengan modal yang keluar,” ujar Alihaq saat ditemui di lokasi tambaknya.
Pendampingan Tiga Siklus
Perubahan besar yang dialami Alihaq tidak terjadi dalam semalam. Ia melalui proses belajar yang bertahap, penuh pertimbangan, bahkan sempat disertai keraguan. Titik awal perubahan itu bermula ketika ia mendapatkan pendampingan dari fasilitator Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pendampingan ini dirancang bukan hanya sebagai penyampaian teori, melainkan sebagai proses pembelajaran langsung di lapangan. Fasilitator datang ke tambak, berdiskusi, mengamati kondisi air, memeriksa pola budidaya yang selama ini dijalankan, hingga bersama-sama menganalisis biaya produksi.
Pada tahap awal, ALlihaq diajak memahami bagaimana sebenarnya ekosistem tambak bekerja. Ia diperkenalkan pada konsep keseimbangan mikroorganisme, siklus nitrogen, serta peran plankton sebagai indikator kesehatan perairan.
“Selama ini saya hanya tahu kalau air berubah warna berarti harus ditambah pupuk. Tapi ternyata ada proses alami yang harus dijaga,” kenangnya.
Siklus Pertama: Mengurangi Ketergantungan
Pada siklus pertama pendampingan, pendekatan yang dilakukan bukan langsung menghentikan penggunaan pupuk kimia secara total. Fasilitator menyadari bahwa perubahan drastis dapat memicu risiko yang tidak diinginkan.
Karena itu, langkah awal difokuskan pada pengurangan bertahap penggunaan pupuk urea dan bahan kimia. Pada saat yang sama, metode fermentasi mulai diperkenalkan sebagai pendukung. Alihaq diajarkan cara membuat fermentasi sederhana dari dedak dan ragi. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan air dan difermentasi dalam wadah tertutup selama beberapa hari hingga menghasilkan aroma khas yang menandakan proses berjalan baik.
Fermentasi ini kemudian diaplikasikan ke tambak dalam dosis tertentu. Pada tahap ini, pengamatan menjadi kunci. Warna air, pertumbuhan plankton, serta respons udang dipantau secara rutin. Siklus pertama menjadi masa adaptasi. Ada kekhawatiran plankton tidak tumbuh optimal atau udang tidak mendapatkan pakan yang cukup. Namun dengan pemantauan yang intensif, perubahan dapat dikendalikan.
Siklus Kedua: Membangun Konsistensi
Memasuki siklus kedua, tingkat kepercayaan ALihaq mulai tumbuh. Ia melihat bahwa kualitas air cenderung lebih stabil dibanding sebelumnya. Perubahan warna air tidak terlalu drastis, dan bau menyengat akibat plankton mati massal mulai jarang terjadi.
Pada fase ini, penggunaan pupuk kimia semakin dikurangi. Fermentasi menjadi komponen utama dalam manajemen tambak. Fasilitator IISAP tidak hanya mendampingi dalam praktik teknis, tetapi juga membantu menghitung ulang struktur biaya produksi. Setiap pengeluaran dicatat, dibandingkan dengan siklus sebelumnya, dan dianalisis bersama. Proses evaluasi ini membuat Alihaq mulai menyadari bahwa sebagian besar biaya sebelumnya sebenarnya berasal dari ketergantungan pada bahan kimia. “Di siklus kedua saya mulai yakin. Ternyata tanpa pupuk urea berlebihan pun plankton tetap tumbuh,” ujarnya. Selain itu, ia mulai memahami pentingnya pencegahan dibanding pengobatan. Jika dulu tindakan dilakukan saat masalah muncul, kini fokus beralih pada menjaga keseimbangan sejak awal.
Siklus Ketiga: Mandiri dan Percaya Diri
Siklus ketiga menjadi fase penegasan perubahan. Pada tahap ini, metode fermentasi diterapkan secara penuh tanpa penggunaan pupuk urea. Alihaq sudah lebih percaya diri dalam membaca tanda-tanda alami di tambak. Ia mampu membedakan warna air yang menunjukkan plankton sehat dan yang menandakan ketidakseimbangan. Ia juga lebih rutin melakukan pengecekan kualitas air secara sederhana. Pendampingan di siklus ketiga lebih banyak berfokus pada penguatan manajemen dan kemandirian.
Fasilitator mendorong ALihaq untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan pemahaman yang telah ia peroleh selama dua siklus sebelumnya. Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang signifikan, baik dari sisi biaya maupun stabilitas produksi. Risiko yang dulu sering muncul akibat fluktuasi kualitas air kini jauh berkurang. “Kalau dulu saya cepat panik, sekarang saya lebih sabar melihat prosesnya. Saya paham kalau tambak itu seperti ekosistem yang harus dijaga, bukan dipaksa,” ungkapnya.
Hasil Nyata di Lapangan
Perubahan metode budidaya mulai menunjukkan dampak positif yang tidak hanya terlihat pada angka-angka di atas kertas, tetapi juga dirasakan langsung dalam keseharian pengelolaan tambak. Jika sebelumnya ALihaq harus menyiapkan modal antara Rp15 hingga Rp20 juta setiap siklus, kini kebutuhan biaya itu menyusut drastis menjadi sekitar Rp5 hingga Rp7 juta. Pengeluaran untuk pupuk urea, obat-obatan kimia, dan berbagai bahan tambahan lain yang dulu rutin dibeli, hampir sepenuhnya dihilangkan.
“Dulu sebelum tebar benur saja saya sudah berpikir soal modal yang besar. Kalau ada masalah sedikit saja, rasanya cemas sekali,” ujar ALihaq. “Sekarang biayanya lebih ringan, jadi pikiran juga lebih tenang.”
Efisiensi ini juga membuka ruang untuk pengelolaan yang lebih terencana. Dana yang sebelumnya terserap untuk bahan kimia kini dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti perawatan pematang tambak, perbaikan saluran air, atau peningkatan kualitas benur.
Salah satu perubahan paling terasa adalah kestabilan kualitas air. Jika sebelumnya warna air tambak sering berubah secara cepat akibat lonjakan plankton yang tidak terkendali, kini perubahan tersebut cenderung lebih lambat dan mudah dipantau.
Selain berdampak pada produksi dan biaya, perubahan ini juga memberi rasa percaya diri baru bagi Alihaq. Ia tidak lagi merasa sepenuhnya bergantung pada produk kimia tertentu untuk menyelamatkan tambaknya saat terjadi masalah.
“Sekarang kalau ada perubahan di air, saya tidak langsung panik. Saya lihat dulu siklusnya, saya cek kondisi planktonnya. Biasanya bisa stabil lagi,” ujarnya. Dengan berkurangnya beban bahan kimia, kualitas lingkungan perairan sekitar juga lebih terjaga dalam jangka panjang. Upaya ini secara tidak langsung mendukung keberlanjutan usaha tambak di wilayah tersebut.
Harapan Bagi Petambak Lain
Kisah Alihaq menjadi bukti bahwa perubahan praktik budidaya bukan hal yang mustahil, asalkan dilakukan dengan pendekatan yang tepat, konsisten, dan berbasis pengetahuan. Dengan biaya yang lebih efisien, risiko yang lebih terkendali, serta sistem yang lebih alami, budidaya udang vaname dapat dijalankan secara lebih berkelanjutan.
Di tengah tantangan sektor perikanan yang semakin kompleks, langkah kecil di Desa Pantai Timur ini menjadi gambaran bahwa masa depan tambak tidak harus selalu bergantung pada bahan kimia. Kadang, solusi terbaik justru berasal dari pendekatan yang lebih sederhana mengembalikan keseimbangan alam sebagai fondasi utama budidaya. Dan bagi ALihaq, tiga siklus pendampingan telah mengubah bukan hanya cara bertambak, tetapi juga keyakinannya bahwa usaha yang sehat dimulai dari lingkungan yang sehat.