Dampak El Nino Ekstrem (“Godzilla”) terhadap Indonesia dan Strategi Adaptasi Petambak Udang

Dampak El Nino Ekstrem (“Godzilla”) terhadap Indonesia dan Strategi Adaptasi Petambak Udang

Pendahuluan

Indonesia sebagai negara tropis sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim global. Salah satu fenomena yang memiliki dampak besar adalah La Nina dan El Nino. El Niño dan La Niña Merupakan fenomena turun dan naiknya suhu permukaan air laut yang terjadi di pusatnya hanya di Samudra Pasifik . Walaupun hanya terjadi di samudra Pasifik, namun atmosfer bumi itu saling terhubung. Sehingga dampaknya ke seluruh dunia. Hal ini bisa terjadi karena :

1.      Mengubah pola angin global

2.      Menggeser jalur hujan

3.      Mempengaruhi tekanan udara di berbagai wilayah

 Akibatnya:

1.      Indonesia bisa kekeringan atau banjir

2.      Amerika Selatan bisa hujan ekstrem

3.      Bahkan Afrika & Australia juga ikut terdampak

Sebenarnya ada juga fenomena serupa di samudra lain seperti

1.      Indian Ocean Dipole (IOD) Terjadi di Samudra Hindia Juga memengaruhi hujan di Indonesia

2.      Atlantic Niño (di Samudra Atlantik) Mirip konsepnya, tapi dampaknya lebih kecil

El Niño

Terjadi saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah–timur lebih hangat dari normal Angin pasat melemah. Dampaknya di Indonesia akan terjadi  kemarau lebih panjang & kering, rawan kekeringan dan kebakaran hutan . sementara di benua Amerika Selatan  hujan lebih tinggi

La Niña

Terjadi saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah–timur lebih dingin dari normal Angin pasat menguat, Dampaknya di Indonesia akan terjadi curah hujan meningkat, musim hujan bisa lebih lama, risiko banjir & longsor. Sementara di benua Amerika Selatan cenderung lebih kering

Baru- Baru ini BMKG telah menginfokan adanya potensi terjadinya El nino Kuatpada bulan April-Oktober 2026. Pada kondisi El Nino kuat atau disebeut El Nino Godzila, Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan yang signifikan, terutama pada periode April hingga Oktober. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta gangguan pada sektor pertanian dan perikanan. Hal ini perlu dijadikan perhatian khusus mengingat progam IISAP untuk petambak tradisional udang sangat dipengaruhi oleh cuaca. Oleh karena itu kita perlu membahas serta menyiapkan strategi adaptasi teknis  bagi petani, khususnya di progam IISAP yaitu petambak udang dalam menghadapi kondisi tersebut.

 

Dampak El Niño 2015–2016 di Indonesia

El Niño 2015–2016 termasuk kategori sangat kuat dan dampaknya ke sektor tambak udang di Indonesia tergolong cukup besar—bahkan negatif secara langsung untuk produksi budidaya. Berikut beberapa informasi dari El Nino 2015-2016.

Dampak utama  kekeringan & perubahan kualitas air tambak. Selama El Niño 2015 Curah hujan turun drastis di banyak wilayah Indonesia musim kemarau jadi lebih panjang dan kering. Bagi petambak udang, ini berpengaruh ke:

a.       Salinitas naik :Air tambak jadi lebih asin karena evaporasi tinggi

b.      Ketersediaan air menurun : hal ini lebih mengarah ke penggunaan sumur bor

c.       Suhu air meningkat : Suhu tinggi metabolisme udang naik butuh oksigen lebih

Perubahan tersebut memiliki resiko ke budidaya secara langsung seperti : DO (oksigen terlarut) turun, Blooming plankton berlebihan yang mengakibatkan fluktuasi pH yang signfikan,

Dampak ke produksi adanya El Nino adalah adanya penurunan signifikan.data nasional yang menunjukkan, Produksi udang turun sekitar 22,3% pada 2015. Oleh sebab itu ekspor udang juga turun puluhan ribu ton. Hal ini disebabkan karena udang sering terkena penyakit (misalnya EMS, white feces, dll) yang lebih mudah muncul akibat udang sering mengalami stres karena perubahan kualitas air. Jadi banyak petambak mengalami kematian udang sehingga SR (Survival Rate) turun, panen lebih cepat (size kecil) dan kegagalan panen.

Strategi Adaptasi

Perubahan Kualitas air

Penurunan curah hujan menyebabkan peningkatan salinitas air tambak akibat penguapan yang tinggi. Konsentrasi mineral dan organik yang terlarut menjadi tinggi jika banyak terjadi penguapan. walaupun udang merupakan hewan air yang hidup dengan toleransi salinitas yang tinggi. Namun jika perubahannya kualitas air yang sangat tiba-tiba dan signifikan, mereka akan stres dan mudah terserang penyakit. Oleh karena itu perlu adanya tandon dan pengecekan kualitas air yang akan digunakan

Panas Terik mengakibatkan suhu lebih panas

Hal ini akan berdampak pada metabolisme udang dan stres pada udang. Petambak bisa berubudidaya dengan kolam dalam (lebih dari 1,3 m). kolam yang dalam akan membuat dasar kolam lebih dingin dibanding permukaan, kecerahan air juga dibentuk hingga pekat, atau bisa juga ditambahkan waring hitam untuk menutupi kolam jika memungkinkan. Tujuannya untuk mengurangi panas matahari yang masuk sehingga air kolam tidak mendapat panas secara berelbihan. Namun dikarenakan petambak masih tradisional, bisa juga melakukan pengisian air ketika panas terik, hal ini membantu menahan suhur air ketika kolam terpapar panas matahari yang terik.

Atur populasi dan tebaran

Suhu air yang meningkat berbanding lurus dengan pemakaian Oksigen oleh udang. Metabolisme udang akan meningkat sehingga konsumsi oksigen juga semakin tinggi. Oleh karena itu pentingnya bijak dalam mengatur densitas udang dikolam. dalam hal ini, jika petambak tidak dilengkapi infrastruktur yanag memadai seperti kincir, alat pengukur DO, sumber air yang cukup. Sebaiknya petambak mengurangi tebaran dimasa fenomena El Nino Godzila ini.