Di Antara Rimbun Mangrove, Dimas Menjemput Rezeki dari Kepiting Bakau



Pagi baru saja menyapa pesisir Desa Pattangae, Kecamatan Bola, Kabupaten Wajo. Saat sebagian anak muda seusianya masih terlelap atau bersiap menjalani aktivitas sekolah dan kuliah, Dimas (19) sudah lebih dulu menapaki lumpur di antara rimbunnya hutan mangrove. Bersama sang adik yang juga tidak lagi melanjutkan pendidikan, Dimas rutin berangkat ke laut setiap pagi untuk memeriksa alat tangkap kepiting bakau yang telah dipasang sehari sebelumnya. Aktivitas itu telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak memutuskan berhenti sekolah. Dimas merupakan lulusan SMP yang sempat melanjutkan pendidikan hingga kelas 1 SMA. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuatnya mengambil keputusan berbeda. Ia memilih berhenti sekolah dan membantu orang tuanya mencari nafkah. “Daripada tinggal di rumah, lebih baik membantu orang tua bekerja,” ujarnya. Pekerjaan utama Dimas adalah menangkap kepiting bakau menggunakan bubu, alat tangkap berbentuk perangkap yang dipasang di sepanjang saluran sungai yang ditumbuhi mangrove.

Menurutnya, kawasan mangrove menjadi habitat favorit kepiting sehingga peluang mendapatkan hasil tangkapan lebih besar. “Bubu biasanya dipasang saat pagi hari ketika air surut. Kami pasang di tempat yang banyak mangrovenya karena biasanya kepiting lebih banyak di sana,” kata Dimas. Setelah dipasang, bubu akan diperiksa kembali untuk melihat hasil tangkapan. Tidak ada jaminan setiap hari memperoleh hasil yang sama. Kadang bubu terisi penuh, namun tak jarang hanya beberapa ekor kepiting yang berhasil didapatkan. Meski demikian, pekerjaan ini tetap menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi keluarganya. Kepiting bakau hasil tangkapan dijual dengan harga sekitar Rp220 ribu per kilogram. Hasil tangkapan tersebut kemudian dipasarkan kepada pengepul maupun dijual di pasar lokal. Bagi Dimas, hutan mangrove bukan sekadar hamparan pepohonan di pesisir. Di balik akar-akar yang menjulang dan lumpur yang lengket, tersimpan harapan serta sumber penghidupan bagi keluarganya. Setiap pagi, ketika matahari mulai meninggi dan perahu kecilnya menyusuri saluran-saluran sungai, Dimas kembali menjalani rutinitas yang sama. Dengan tangan yang terbiasa bergelut dengan lumpur dan air asin, ia terus berusaha mencari rezeki demi membantu orang tua dan mempertahankan kehidupan keluarganya di pesisir Pattangae.

Penulis : Mahmudin (Fasilitator Lingkungan Wajo)

Lampiran File:
Di Antara Rimbun Mangrove, Dimas Menjemput Rezeki dari Kepiting Bakau.pdf