Merajut ASA Budidaya Kerapu Centang pasca Banjir Bandang

 

 

Merajut ASA Budidaya Kerapu Centang Pasca Banjir Bandang 

Bangkitnya Budidaya Kerapu Cantang Pasca-Banjir di Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara Banjir bandang yang melanda pesisir Kabupaten Aceh Utara menyisakan duka mendalam. Ratusan hektare tambak dan puluhan unit Keramba Jaring Apung (KJA) hancur. Akibatnya, jutaan benih udang dan ikan siap panen hanyut ke laut lepas. Namun, kehancuran ini tidak mematahkan semangat para pembudidaya lokal. Salah satu kelompok yang terdampak parah adalah Pokdakan "Leubok" di Desa Meunasah Sagoe, Kecamatan Seuneddon. Bersama anggotanya, Pak Dedi dan istrinya memilih untuk segera bangkit demi memulihkan ekonomi keluarga.

Mereka berfokus pada budidaya Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus × Epinephelus lanceolatus), komoditas laut unggulan yang bernilai ekonomi tinggi. Langkah Awal Membangun Kembali Pak Dedi segera mengambil tiga langkah konkret untuk memulihkan tambaknya: 1. Normalisasi Air: Menguras lumpur di dasar tambak seluas 12.000 m² dan memperbaiki jaring yang rusak. 2. Penebaran Ulang (Restocking): Memasukkan 15.000 ekor benih kerapu cantang unggul yang baru. 3. Manajemen Pakan: Menggunakan pakan alternatif berupa ikan rucah untuk menekan biaya operasional.

Untuk menyiasati perubahan musim dan tidak stabilnya pasokan air laut, Pak Dedi menerapkan inovasi penggelondongan pada media bersalinitas rendah. Teknik ini memungkinkan benih kerapu beradaptasi dan tumbuh optimal di air payau. Pada fase krusial ini, keberhasilan diukur melalui laju pertumbuhan yang cepat (Specific Growth Rate), tingkat kelangsungan hidup yang tinggi (Survival Rate), dan efisiensi pakan yang hemat (Feed Conversion Ratio). Hasil Manis di Ujung Penantian.

Setelah enam bulan merawat tambak dengan ketat, perjuangan Pak Dedi dan istrinya membuahkan hasil. Kerapu cantang mereka kini telah mencapai ukuran konsumsi standar, yaitu 500 hingga 1.000 gram per ekor. Pasar untuk kerapu ini sangat terbuka lebar. Selain untuk restoran premium dan pasar lokal di Kota Medan, ikan ini juga siap diekspor ke Malaysia. Pak Dedi menargetkan panen raya pada Februari 2027, tepat menjelang perayaan Imlek saat harga kerapu mencapai titik tertinggi. Kisah Pak Dedi membuktikan bahwa bencana bukanlah akhir dari segalanya. Melalui inovasi yang tangguh dan kerja keras, air mata pasca-bencana kini telah berubah menjadi rupiah dan harapan baru.

Fasilitator IISAP ADB Aceh Utara

Lampiran File:
Aceh Utara_Merajut ASA Budidaya Kerapu Centang pasca Banjir Bandang (Final).pdf