KONTRIBUSI PEREMPUAN - Harapan Tumbuh Bersama

Pidie, 20 Juli 2026. Di tengah upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga petambak, tersimpan kisah tentang semangat, ketekunan, dan perubahan. Bagi Husaini dan istrinya, Juliani, yang berdomisili di Desa Kayee Panyang, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Aceh, budidaya udang bukan lagi sekadar mata pencaharian, melainkan sebuah perjalanan membangun masa depan keluarga melalui kerja sama, pendampingan, dan tekad untuk terus berkembang.

Melalui Program IISAP, fasilitator secara rutin hadir mendampingi keluarga petambak mulai dari persiapan tambak, penebaran 5.000 benur udang vaname, pemeliharaan, pengelolaan kualitas air, hingga proses panen. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten mulai membuahkan hasil. Pada panen parsial tahap pertama, tambak berhasil menghasilkan 30 kilogram udang vaname berukuran (size) 70 dengan harga jual Rp 60.000 per kilogram. Meskipun masih merupakan panen awal, hasil tersebut menjadi bukti bahwa penerapan budidaya yang baik dan pendampingan yang berkelanjutan mampu memberikan harapan baru bagi keluarga petambak.

Keberhasilan budidaya ini tidak terlepas dari peran aktif Juliani yang terlibat sejak awal hingga pascapanen. Ia membantu mempersiapkan kebutuhan budidaya, mendukung pengelolaan usaha, mencatat hasil panen, serta mengelola keuangan melalui pembukuan sederhana, pencatatan biaya dan pendapatan, hingga perencanaan penggunaan keuntungan. Melalui pendampingan fasilitator IISAP, Juliani semakin percaya diri dalam mengelola keuangan keluarga dan berperan sebagai mitra penting dalam pengambilan keputusan, sehingga turut memperkuat keberhasilan budidaya dan ketahanan ekonomi keluarga petambak.

Pendampingan fasilitator tidak hanya berfokus pada aspek teknis budidaya, tetapi juga memperkuat literasi keuangan keluarga petambak. Melalui pendekatan yang humanis, fasilitator 

memberikan motivasi, membimbing pencatatan keuangan usaha, serta mendorong keluarga petambak agar mampu merencanakan usaha secara lebih baik. Perlahan, pendampingan tersebut berhasil mengubah pola pikir keluarga Husaini dan Juliani, dari sekadar menjalankan budidaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi mengelola usaha secara profesional, berorientasi pada keberlanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Bagi Husaini dan Juliani, kehadiran fasilitator bukan hanya membawa pengetahuan, tetapi juga menghadirkan semangat baru di tengah berbagai tantangan budidaya. Setiap kunjungan lapangan menjadi ruang untuk berdiskusi, mencari solusi, dan menumbuhkan keyakinan bahwa keberhasilan dapat diraih melalui kerja sama keluarga, kemauan untuk terus belajar, dan pendampingan yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Kisah ini menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Ketika perempuan diberi ruang untuk terlibat sejak awal hingga pascapanen, dan keluarga memperoleh pendampingan yang tepat, maka yang tumbuh bukan hanya hasil panen, tetapi juga rasa percaya diri, kemandirian ekonomi, serta harapan baru bagi masa depan keluarga petambak dan masyarakat pesisir.

FASILITATOR IISAP - PIDIE

Lampiran File:
Kontribusi Perempuan, Harapan Tumbuh Bersama.pdf