Mengubah Persepsi, Memulihkan Pesisir: Uji Coba Silvofishery untuk Masa Depan Tambak Wajo
Ekosistem mangrove merupakan salah satu aset penting wilayah pesisir Indonesia. Selain berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan gelombang ekstrem, mangrove juga mendukung produktivitas perikanan, menjaga kualitas perairan, serta menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, berbagai tekanan akibat aktivitas manusia terus mengancam keberlanjutan ekosistem ini, termasuk konversi lahan untuk kegiatan budidaya perikanan. Tantangan tersebut juga ditemukan di lokasi Program IISAP (Infrastructure Improvement for Shrimp Aquaculture Project) di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Di kawasan ini, degradasi ekosistem mangrove menjadi salah satu isu lingkungan yang memerlukan perhatian lebih. Alih fungsi kawasan mangrove menjadi area tambak telah mengurangi tutupan vegetasi pesisir yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus mendukung keberlanjutan usaha budidaya.

Di saat yang sama, upaya pemulihan fungsi ekologis kawasan pesisir menghadapi tantangan lain, yaitu rendahnya pemahaman dan minat petambak terhadap praktik budidaya yang mengintegrasikan mangrove dengan kegiatan produksi. Sebagian besar petambak masih memandang keberadaan mangrove di dalam tambak sebagai hambatan. Banyak yang meyakini bahwa pohon bakau dapat mengganggu pergerakan ikan bandeng, komoditas utama yang selama ini dibudidayakan di kawasan tersebut.
Persepsi tersebut menunjukkan bahwa transformasi menuju budidaya yang lebih berkelanjutan tidak hanya membutuhkan intervensi teknis, tetapi juga perubahan cara pandang. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa sistem silvofishery yang mengintegrasikan mangrove dengan aktivitas budidaya dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus mendukung produktivitas jangka panjang melalui peningkatan kualitas lingkungan tambak. Salah satu tantangan utama penerapan model ini di berbagai daerah justru terletak pada aspek pengetahuan, penerimaan sosial, dan kapasitas pelaku usaha budidaya.
Berangkat dari kondisi tersebut, fasilitator Lingkungan bersama masyarakat mulai memperkenalkan pendekatan baru melalui rencana uji coba budidaya udang berbasis silvofishery. Inisiatif ini dirancang sebagai ruang pembelajaran bersama untuk menunjukkan bahwa pelestarian mangrove dan kegiatan budidaya tidak harus diposisikan sebagai dua tujuan yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan pesisir.
Saat ini program masih berada pada tahap persiapan. Meskipun demikian, proses pendampingan yang dilakukan telah menghasilkan perkembangan positif. Sejumlah petambak mulai menunjukkan minat untuk terlibat dalam uji coba dan mempelajari lebih Foto: Proses pengenalan Konsep Silvofishery ke Petambak lanjut praktik budidaya udang berbasis silvofishery. Ketertarikan ini menjadi modal awal yang penting untuk membangun contoh praktik baik di tingkat lokal.
Pendekatan demonstrasi lapangan dipilih karena perubahan perilaku sering kali lebih efektif didorong melalui pengalaman langsung. Ketika petambak dapat melihat sendiri bagaimana sistem silvofishery diterapkan, memahami tantangan yang muncul, dan mengamati hasil yang diperoleh, peluang adopsi inovasi menjadi lebih besar. Uji coba ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pembelajaran teknis, tetapi juga membangun kepercayaan bahwa keberadaan mangrove dapat menjadi bagian dari strategi meningkatkan ketahanan usaha budidaya.
Dalam jangka panjang, Fasilitator Lingkungan menargetkan sedikitnya 50 persen area tambak penerima manfaat program dapat menerapkan budidaya udang berbasis silvofishery. Target tersebut mencerminkan upaya mendorong transformasi akuakultur yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir sebagai fondasi utama kegiatan budidaya.
Pengalaman di Kabupaten Wajo menunjukkan bahwa keberlanjutan sektor akuakultur tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan produktivitas. Diperlukan pendekatan yang mampu menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan perlindungan sumber daya alam yang menopangnya. Melalui uji coba silvofishery, Fasilitator lingkungan berupaya membuka jalan bagi model budidaya yang lebih adaptif, tangguh, dan selaras dengan upaya pemulihan ekosistem mangrove. Jika berhasil, inisiatif ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi petambak di Wajo, tetapi juga menjadi pembelajaran berharga bagi pengembangan akuakultur berkelanjutan di wilayah pesisir Indonesia lainnya.
Penulis : Mahmudin (Fasilitator Lingkungan)