Dari Tambak Tradisional Menuju Budidaya Berkelanjutan: Kisah Sukses Pembudidaya Udang Vaname di KabupatenWajo Berkat Pendampingan Terpadu
Dari Tambak Tradisional Menuju Budidaya Berkelanjutan: Kisah Sukses Pembudidaya Udang Vaname di KabupatenWajo Berkat Pendampingan Terpadu
Oleh : Fasilitator Teknis Kabupaten Wajo (Adri Adi Aksa, Mahsyar Taufiq Abr, Jusman Baharuddin)
Bagi sebagian besar petambak tradisional, mengandalkan pengalaman turun-temurun tanpa perhitungan yang matang sering kali terasa seperti bertaruh dengan keadaan. Hal inilah yang dirasakan mayoritas petambak udang tradisional di Kabupaten Wajo, khususnya di Kecamatan Takkalalla, Bola, dan Sajoanging.
Selama bertahun-tahun, aktivitas budidaya udang di wilayah ini berjalan apa adanya tanpa manajemen yang jelas. Cara kerja petambak sering kali hanya mengikuti kebiasaan antar sesama petambak dan kebiasaan turun temurun tanpa dasar teori dan teknis yang tepat. Mulai dari persiapan lahan yang tidak dilakukan dengan maksimal, tebar benur dilakukan seadanya, serta pemberian pakan yang berlebihan (over feeding), penggunaan obat-obatan pestisida/insektisida dan pengecekan air diabaikan begitu saja. Akibatnya, hasil panen sangat sulit ditebak. Modal yang dikeluarkan petambak sering kali bengkak dan habis untuk biaya operasional, tapi hasilnya justru sedikit dan sering merugi.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah sejak adanya program IISAP (Infarstructure Improvement Shrimp Aquaculture Project). Lewat program ini, para petambak mendapat pendampingan langsung dari fasilitator di lapangan untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kehadiran fasilitator bukan sekadar membawa teori di atas kertas, melainkan membimbing petambak untuk mulai merubah kebiasaan lama dari hulu hingga hilir.
Pendampingan ini menerapkan konsep sesuai dengan SOP budidaya udang vaname maupun CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik), mulai dari persiapan lahan hingga pengelolaan lanjutan. Dalam pendampingan ini, tidak dilakukan oleh fasilitator teknis saja tapi berkat kerjasama antar fasilitator lingkungan yang memastikan praktik budidaya tetap menjaga kelestarian alam sekitar tambak, fasilitator sosial yang memperkuat komunikasi dan kebersamaan antar petambak dalam kelompok, serta fasilitator bisnis yang membantu mengarahkan pengelolaan usaha agar lebih efisien dan bernilai ekonomis, serta kolaborasi erat antara tim fasilitator di lapangan bersama Dinas Perikanan Wajo dan penyuluh perikanan Wajo, serta stakeholder terkait.
Penerapan prinsip budidaya berkelanjutan ini juga diwujudkan secara nyata dengan meninggalkan kebiasaan lama yang kurang ramah lingkungan, seperti penggunaan obatobatan terlarang atau bahan kimia berbahaya. Sebagai gantinya, petambak beralih menggunakan bahan-bahan organik yang aman, salah satunya melalui pemanfaatan fermentasi probiotik untuk menjaga kualitas air dan kesehatan udang secara sehat dan aman.
Melalui sinergi pendampingan ini, target utamanya adalah agar para petambak mampu secara mandiri mengimplementasikan budidaya udang vaname sesuai dengan praktik CBIB (cara budidaya ikan yang baik) maupun SOP budidaya udang vaname, yang pada akhirnya bermuara pada terwujudnya budidaya berkelanjutan, baik dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial, serta peningkatan produktivitas dan pendapatan petambak itu sendiri.
Bersama tim fasilitator, Petambak diajak mengubah kebiasaan "coba-coba" menjadi sistem budidaya yang terarah melalui ruang diskusi teknis yang intensif.
Beberapa langkah perbaikan serta transfer teknologi yang diterapkan di antaranya:
• Manajemen Kualitas Air dan Persiapan Kolam: Mengontrol parameter air secara berkala menggunakan alat ukur dan meteran air yang akurat, serta memastikan lingkungan tambak steril sebelum benur ditebar.
• Manajemen Pakan yang Efisien: Menghitung kebutuhan pakan dengan cermat agar tidak terjadi pemborosan biaya dan over feeding sekaligus menjaga kualitas dasar tambak.
• Monitoring Kesehatan Udang: Melakukan pengamatan rutin untuk mendeteksi potensi masalah atau penyakit sejak dini.
• Pemanfaatan Teknologi & Bahan Organik: Membiasakan penggunaan fermentasi probiotik untuk mengelola kualitas air secara alami tanpa bergantung pada bahan kimia berbahaya.
Transformasi nyata ini diantaranya tercermin jelas dari perjalanan yang dialami oleh Pak Alihaq (Ketua Pokdakan Lakamporo) dan Pak Firman (Ketua Pokdakan Wajo Timur), salah seorang petambak dampingan di Kabupaten Wajo. “Dulu kita tebar benur ya asal tebar saja dan beri pakan asal beri saja, ikuti cara orang-orang tanpa tahu takarannya benar atau tidak. Modal keluar banyak, tapi seringnya merugi karena air jelek dan udang banyak yang mati" ucap Pak Alihaq menceritakan kebiasaanya.
Terhitung sejak pendampingan intensif berjalan secara konsisten dari rentang Agustus 2024 hingga sekarang dan kini telah ada yang berjalan siklus ke-10, total akumulasi hasil panen dari para petambak dampingan telah mencapai 24,281 ton. Hasilnya, perlahan kerugian bisa ditekan, pengelolaan tambak jadi lebih terukur, dan puncaknya ia bisa merasakan panen yang jauh lebih memuaskan dari sebelumnya. Kini, ia mampu menerapkan SOP budidaya secara mandiri. Perbedaan pengelolaannya terlihat sangat kontras pada tabel perbandingan di bawah ini. Perbandingan sebelum dan sesudah adanya pendampingan fasilitator IISAP Indikator Sebelum Pendampingan Sesudah Pendampingan Persiapan & Manajemen Budidaya Seadanya, tebar tanpa kontrol, air diabaikan.
Disiplin menerapkan SOP dari hulu hingga panen Modal Operasional 5 juta-10 juta per siklus/ha (Boros & tidak terkontrol) 3 juta-5 juta per siklus/ha (Lebih hemat & terarah) Hasil Panen 200 kg-350 kg/ha/siklus (Sedikit, ukuran tidak merata, sering rugi). 350 kg-500 kg/ha/siklus (Meningkat, size besar, modal minim) Kondisi keuangan sebelum adanya pendampingan Keterangan Q Price (Rp) Jumlah (Rp) Tonase (kg) 350 Biomassa (terjual) (kg) 300 40.000 8.000.000,00 Abw (g) 8 Size 120 Jumlah Hasil Panen 8.000.000,00 Biaya-Biaya : Bibit 50.000 53 2.650.000,00 Pakan 6 300.000 1.800.000,00 Pupuk urea 10 150.000 1.500.000,00 Obat-obatan 2 300.000 600.000,00 By.Penyusutan peralatan 11.875,00 Jumlah Biaya 6.562.875,00 Keuntungan 1.438.125,00 Kondisi keuangan setelah adanya pendampingan Keterangan Q Price (Rp) Jumlah (Rp) Tonase (kg) 500 Biomassa (terjual) (kg) 450 45.000 20.200.000,00 Abw (g) 12,5 Size 80 Jumlah Hasil Panen 20.250.000,00 Biaya-Biaya : Bibit 50.000 53 2.650.000,00 Pakan 3 300.000 900.000,00 Pupuk urea 6 150.000 900.000,00 Saponin 1 200.000 200.000,00 Kapur Dolomit 3 150.000 450.000,00 Fermentasi 1 300.000 300.000,00 By.Penyusutan peralatan 11.875,00 Jumlah Biaya 5.411.875,00 Keuntungan 14.838.125,00 Perbandingan persentasi keuntungan PERHITUNGAN Hasil Panen Indikator Petak sebelum pendampingan Q (Kg) Jumlah Biaya Keuntungan Keuntungan (%) 200 Rp 8.000.000,00 Rp 6.562.875,00 Rp 1.438.125,00 Petak setelah pendampingan 17,98 450 Rp 22.200.000,00 Rp 5.411.875,00 RP 14.838.125,00 66,4 *Catatan: Angka pada tabel di atas merupakan perbandingan data usaha dengan luasan lahan tambak 1,5 ha, padat tebar 50.000 ekor benur, dan masa pemeliharaan (Days of Culture) selama 40-60 hari. Jika dulu modal membengkak namun hasil panen minim, kini pengelolaan modal menjadi jauh lebih efisien dan terarah, sementara itu produktivitas juga meningkat secara signifikan. Kelangsungan hidup udang meningkat, ukuran saat panen lebih seragam, dan keuntungan bersih yang didapatkan kini mampu meningkatkan taraf hidup. ini membuktikan bahwa tambak tradisional memiliki potensi besar untuk bertransformasi apabila dikelola dengan tata cara yang tepat. Langkah ini sekaligus menjadi wujud nyata penerapan prinsip budiaya yang berkelanjutan, di mana efisiensi biaya berjalan seiring dengan peningkatan hasil produksi. "Dulu kami menggunakan modal besar, tetapi hasilnya sering merugi.
Sekarang, berkat pendampingan dan manajemen yang teratur dari program IISAP ini, modal bisa ditekan, sementara hasilnya justru jauh lebih memuaskan." ungkap Pak Alihaq. Hasil panen dan Penebaran bibit "Menurut saya, program IISAP ini sangat bagus sekali untuk ke depannya bagi kami para petambak. Inilah yang benar-benar kami butuhkan. Sebagai petambak, kita harus siap dan terbuka menerima ilmu serta pengetahuan baru, serta beradaptasi dengan perubahan agar tidak tertinggal. Harapan saya ke depan, program ini terus berlanjut dan mampu memberikan yang terbaik," ungkap Pak Firman. Semoga pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi petambak tradisional lainnya untuk berani bertransformasi, meninggalkan cara-cara lama, serta bersama-sama membangun masa depan budidaya yang lebih produktif dan berkelanjutan. “Dari Tambak Tradisional: Berani Berubah, Bersama IISAP, Wujudkan Budidaya Udang yang Berkelanjutan”