Misi ADB Tinjau Program IISAP di Wajo: Dorong Keberlanjutan Tambak, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Generasi Muda

Tim Misi Asian Development Bank (ADB) menggelar kegiatan Konsultasi Bermakna (Meaningful Consultation) di Desa Pantai Timur, Kecamatan Takalalla, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung di kediaman PPL Desa Pantai Timur ini dihadiri oleh 57 peserta yang terdiri dari 28 perempuan dan 29 laki-laki. Pertemuan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung perkembangan serta dinamika pelaksanaan program Infrastructure Improvement for Shrimp Aquaculture Project (IISAP) di tingkat akar rumput, sekaligus memastikan prinsip perlindungan lingkungan, sosial, dan kesetaraan gender berjalan optimal.

Kepala Desa Pantai Timur, Muhammad Hasli, S.Sos., dalam sambutan pembukanya memaparkan rekam jejak program IISAP yang telah masuk sejak akhir tahun 2023. Hingga saat ini, Desa Pantai Timur telah mencatatkan 9 kelompok pembudidaya dengan total 126 anggota (95 laki-laki dan 31 perempuan). Beliau mengapresiasi hadirnya program yang juga menjangkau Kecamatan Bola dan Sajoanging tersebut sebagai solusi konkret atas kendala pertambakan warga.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Wajo, Drs. H. Andi Cakunu, M.Si., menekankan besarnya potensi perikanan Wajo yang memiliki garis pantai sepanjang 103 km dan luas tambak mencapai kurang lebih 15.000 hektar. Kadis Perikanan berharap ke depan dapat dibangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan/Petambak (SPBN) untuk menunjang operasional pertambakan.

Spesialis Sosial ADB, Indah Setyawati, menegaskan bahwa IISAP memegang teguh tiga pilar regulasi utama ADB, yakni perlindungan lingkungan, perlindungan sosial, dan kesetaraan gender dengan prinsip dasar do no harm (tidak merugikan masyarakat). ADB memastikan seluruh perancangan teknis dan penggunaan lahan harus atas persetujuan penerima manfaat.

Di sisi lain, Spesialis Gender ADB, Riana Puspasari, mengapresiasi capaian partisipasi perempuan dalam kelompok tambak di Wajo yang telah melampaui target minimal 20%. Tingginya keterlibatan perempuan juga tercermin langsung dari komposisi peserta pertemuan konsultasi ini, di mana dari total 57 peserta yang hadir, sebanyak 28 orang adalah perempuan dan 29 orang laki-laki. Riana menekankan bahwa keterlibatan ini harus menjadi meaningful participation, di mana perempuan terlibat aktif dalam pengambilan keputusan serta pelatihan teknis budidaya.

Sesi dialog interaktif berlangsung hangat. Masyarakat menyuarakan berbagai kendala dan aspirasi lapangan. Ibu Hj. Suriani mengeluhkan keterbatasan modal untuk penggalian careng dan pembuatan pintu air. Sementara Ibu Jumriah, petambak perempuan yang kini vokal menyuarakan aspirasi, menyatakan kesediaannya berbagi lahan untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal demi kepentingan bersama. Menanggapi pertanyaan petambak terkait kepastian jadwal pekerjaan fisik pengerukan saluran, Dadang Sukmana (PMTC Spesialis Sosial Safeguard) menjelaskan bahwa pengerjaan fisik mengalami penyesuaian jadwal akibat kelengkapan berkas persiapan serta proses lelang yang dilakukan serentak untuk 13 kabupaten penerima IISAP di Indonesia.

Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan SMK Negeri 8 Wajo. Guru dan siswa memaparkan manfaat pelatihan lingkungan hidup yang telah terlaksana dalam beberapa kali pertemuan. Kami mendapatkan pemahaman baru mengenai konservasi mangrove serta pengarusutamaan gender. Siswa SMK 08 Wajo, Aidil Faiz, menanyakan solusi atas kendala kematian udang bertahap di usia pemeliharaan 30–40 hari

Prof. Rustam & Ir. Jenny Masje Muntiaha, M.Si menjelaskan bahwa kendala tersebut dipicu oleh penumpukan bahan organik, kotoran, dan sisa pakan di dasar kolam yang bertepatan dengan masa krusial pergantian kulit (moulting) udang. Solusi konkret yang ditawarkan meliputi:

   Rutin melakukan pengontrolan bahan organik serta pengaplikasian kapur dolomit untuk menjaga kestabilan pH dan alkalinitas.

   Penggunaan probiotik dan pakan fermentasi berbasis bahan lokal (seperti dedak, ragi, dan EM4) untuk menekan bakteri patogen.

   Penerapan kontrol anco secara ketat guna mencegah pemberian pakan berlebihan (overfeeding).

   Pemanfaatan fasilitas uji laboratorium BPBAP Takalar secara berkala untuk deteksi dini penyakit.

 

Menutup rangkaian kegiatan, Andres Heru Wibowo (PMTC Spesialis Gender) menekankan bahwa pengarusutamaan gender ke depan akan diwujudkan dalam struktur kelembagaan kelompok secara resmi, menempatkan perempuan pada posisi strategis seperti pengelola keuangan dan operasional. Misi Konsultasi Bermakna ini diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk mengawal pelaksanaan IISAP agar transparan, tepat sasaran, dan membawa manfaat berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Wajo.

Lampiran File:
KEGIATAN MISI ADB KAB.WAJO_21 JULI 2026.pdf