KAJIAN TENTANG MANAJEMEN BUDIDAYA DENGAN PENAMBAHAN DEDAK FERMENTASI PADA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (PENAEUS VANNAMEI) SISTEM TRADISIONAL

Peningkatan permintaan global udang vannamei sering kali terkendala oleh rendahnya efisiensi pada sistem budidaya tradisional akibat masalah kualitas air dan ketergantungan tinggi pada input kimia. Penelitian ini mengevaluasi penggunaan probiotik berbasis dedak padi fermentasi sebagai solusi lokal berbiaya rendah di Desa Pantai Timur, Kabupaten Wajo. Melalui pendekatan eksperimental pada 18 tambak (masing-masing 1 ha), penelitian ini menguji pengaruh perlakuan terhadap respons fisiologis, kualitas lingkungan, dan produktivitas udang selama 50 hari masa pemeliharaan.

Data menunjukkan bahwa aplikasi dedak fermentasi secara signifikan meningkatkan aktivitas enzim amilase dan kadar glikogen, yang mengindikasikan perbaikan metabolisme karbohidrat dan cadangan energi udang. Meskipun aktivitas protease dan lipase tidak berubah nyata, intervensi ini efektif menstabilkan ekosistem tambak. Kualitas air tetap terjaga sesuai standar Permen KP No. 75/2016, dengan keunggulan berupa fluktuasi pH yang lebih stabil serta rendahnya akumulasi senyawa toksik seperti amonia, nitrit, dan nitrat. Kondisi lingkungan yang optimal tercapai pada suhu 27– 32°C dengan kedalaman air 70–80 cm. Secara biologis, penggunaan dedak fermentasi berhasil meningkatkan bobot akhir udang dan mempertahankan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang tinggi. Dengan menekan angka mortalitas, metode ini terbukti mampu menjaga stabilitas produktivitas tambak tanpa beban biaya pakan komersial yang berlebih. Temuan ini menyimpulkan bahwa dedak padi fermentasi merupakan intervensi strategis yang efektif untuk meningkatkan efisiensi pakan dan keberlanjutan ekosistem pada budidaya udang vannamei tradisional.

Lampiran File:
Artikel_KajianPenggunaanDedakPadaBudidayaUdangVannameiSistemTradisional_TMahsyar_Wajo.pdf